Secara genetik, baik ayah atau ibu
memiliki berbagai keunikan yang berguna bagi perkembangan anak. Ibarat bangunan
rumah, ibu lebih banyak berperan membangun pondasi. Sedangkan ayah melanjutkan
bangunan di atas pondasi itu. Bangunan akan kuat kalau pondasinya bagus. Dari
riset terungkap, sifat-sifat dasar manusia lebih banyak mendapatkan pengaruh
dari figur ibu. 88% orang dewasa mengakui pengaruh positif yang mereka dapatkan
dari ibu (Psychology Today: 2001). Tapi, untuk urusan keberhasilan di sekolah
atau pekerjaan, peranan ayah jauh lebih menonjol (Psychology & Life: Philip
G. Zimbardo, 1979). Tentu ini tidak berlaku untuk semua orang pada semua
keadaan. Dari sini bisa kita pelajari bahwa jika anak terarahkan secara tak
sadar, lebih-lebih dikondisikan secara sadar, untuk lebih memfavoritkan ayahnya
semata atau ibunya semata, maka anak akan kehilangan kesempatan untuk
mendapatkan pengaruh positif secara lebih sempurna. Ini belum termasuk efek
buruk lain, misalnya kesenjangan hubungan emosi, kualitas ketaatan anak, sampai
ke munculnya kebencian dari anak terhadap figur yang kurang difavoritkan. Ini
tentu ada sebab-sebab yang tertanam dari kecil.
Beberapa
Cara Menghindari :
Untuk tujuan pengasuhan jangka panjang, yang paling banyak dirugikan dari praktek sikap pilih kasih ini adalah anak. Karena itu, perlu kita hindari bersama. Cara yang bisa kita hindari, antara lain:
Untuk tujuan pengasuhan jangka panjang, yang paling banyak dirugikan dari praktek sikap pilih kasih ini adalah anak. Karena itu, perlu kita hindari bersama. Cara yang bisa kita hindari, antara lain:
- Mengkondisikan anak agar memiliki kedekatan yang seimbang terhadap kedua orangtua dengan cara, misalnya ayah menggendong dan ibu memilih barang belanjaan.
- Menunjukkan kerjasama yang bagus, misalnya merapikan rumah bersama atau berbagi peran secara kompak.
- Menunjukkan cara berkonflik yang positif, misalnya cepat akrab setelah berbeda pendapat, tetap saling menghormati walaupun berbeda.
- Menggunakan bahasa yang bernada menghormati ketika mengomentari ibu, ayah, atau keluarga.
- Menemukan peranan pengganti, entah dari kakek-nenek, keluarga, atau lainnya.
Mudah-mudahan itu semua bisa kita
praktekkan sesuai keadaan kita. Yang penting, mari bersama menghindari praktek
sikap pilih kasih dalam pengasuhan.
Sumber :
https://www.sahabatnestle.co.id/Page/arsip/artikel/bahaya-sikap-pilih-kasih-dalam-pengasuhan-anak
Tidak ada komentar:
Posting Komentar